JawaPos.com – Semua provinsi di Indonesia diminta melanjutkan imunisasi polio. Tak hanya polio, imunisasi lain seperti Pentavalen DPT, HB-HiB, maupun campak rubella juga dikejar. Hal ini menyusul capaian imunisasi kejar yang berlangsung sejak bulan Mei hingga November 2022 selama pandemi Covid-19.
Plt. Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan dr. Prima Yosephine mengatakan, imunisasi kejar adalah imunisasi tambahan untuk mengejar cakupan imunisasi rutin yang masih rendah, sehingga anak-anak dapat terlindungi dari kematian dan kecacatan akibat penyakit. Imunisasi kejar capaiannya bervariasi. Namun imunisasi polio atau OPV sebelumnya capaiannya hanya 33,6 persen.
“IPV 23,8 persen, dan pentavalen 30,2 persen,” katanya kepada wartawan baru-baru ini.
Sementara, lanjut Prima, untuk regional Jawa Bali, capaian imunisasi kejar polio tetes atau OPV sebesar 84,6 persen sudah berhasil mencapai target. Begitu juga dengan imunisasi pentavalen mencapai 91,3 persen. Namun demikian, regional ini belum bisa mencapai target imunisasi kejar polio suntik IPV, yang baru mencapai 77,3 persen.
Lebih lanjut, prima menjelaskan secara rinci capaian imunisasi di tiap tiap propinsi. Capaian imunisasi campak-rubella semua propinsi di regional Jawa-Bali yang sudah bisa mencapai target 95 persen meliputi propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, DKI Jakarta,dan Jawa Timur. Sementara hanya satu propinsi di luar Jawa-Bali yang bisa mencapai target 95 persen yaitu provinsi Sulawesi Selatan.
Capaian masing masing propinsi untuk imunisasi kejar polio dari target 80 persen untuk di luar regional Jawa dan Bali baru tiga propinsi yang mampu memenuhi yaitu kepulauan Riau, Sumatera Selatan, dan Lampung. Sementara untuk Regional jawa-bali hanya propinsi DKI Jakarta yang belum mencapai target. Begitu pula capaian imunisasi polio suntik (IPV), dimana hanya propinsi Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, dan Jawa Timur yang sudah memenuhi target, sementara 29 propinsi lainnya belum.
Sebelumnya Indonesia dinyatakan berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) karena ada 1 kasus lumpuh layu di Kabupaten Pidie, Aceh. Satu saja kasus ditemukan di suatu negara, maka Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan status KLB.
Editor : Nurul Adriyana Salbiah
Reporter : Marieska Harya Virdhani
Sumber: www.jawapos.com