84 Persen Kematian Covid-19 Belum Vaksin 3 Dosis, Begini Alur Booster

JawaPos.com – Pemerintah sudah memulai vaksinasi booster Covid-19 kedua atau dosis keempat bagi lansia. Sementara capaian vaksinasi dosis booster pertama atau dosis ketiga masih rendah. Data Kementerian Kesehatan, angka pasien Covid-19 yang meninggal, sebanyak 84 persen belum booster atau dosis ketiga.

Sebelumnya Presiden Jokowi menerangkan saat ini Indonesia telah menyuntikkan 205 juta dosis vaksin yang pertama, 172 juta dosis vaksin yang kedua, 66 juta dosis vaksin penguat (booster) pertama, dan 730 ribu dosis vaksin penguat (booster) yang kedua. Tujuannya untuk memberi imunitas dan mencegah keparahan hingga kematian.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa 84 persen dari kasus Covid-19 yang meninggal dunia belum mendapatkan vaksinasi penguat (booster). Selain itu, 74 persen kasus Covid-19 yang mendapatkan perawatan di rumah sakit dengan gejala sedang dan berat juga belum mendapatkan vaksinasi penguat.

“Sebanyak 84 persen yang meninggal karena belum booster. Jadi buat teman-teman, buat masyarakat, tolong diingatkan agar cepat-cepat di-booster. Baru 66 juta dari 234 juta target sasaran kita yang di-booster, cepat di-booster, khususnya untuk tenaga kesehatan dan lansia diatas 60 tahun juga segera lakukan booster yang kedua,” kata Menkes Budi kepada wartawan baru-baru ini.

Menurutnya, vaksinasi bisa mengurangi risiko keparahan jika terinfeksi virus Covid-19. Selain itu dapat meningkatkan imunitas tubuh dan menciptakan kekebalan imunitas.

”Jadi orang tua, nenek, kakek, dan keluarga lain di rumah segera ajak mereka untuk divaksinasi. Vaksinasi bisa didapat di fasilitas kesehatan terdekat seperti Puskesmas atau sentra vaksinasi di masing-masing wilayah,” kata Menkes Budi.

Varian Baru Jadi Tantangan

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Mohammad Syahril mengakui Indonesia belum dikatakan aman dari pandemi Covid-19, mengingat mutasi varian baru masih berpotensi terus terjadi. Tercatat sebanyak 12 kasus Covid-19 varian XBB sudah terjadi di Indonesia.

”Varian XBB lebih cepat menular, kita harus waspada dan selalu proteksi diri,” ujar Syahril.

Ia mengimbau agar masyarakat terus mengedepankan protokol kesehatan seperti menggunakan masker baik di dalam maupun di luar ruangan, menghindari kerumunan dan mencuci tangan pakai masker, dan melakukan tes apabila mengalami tanda dan gejala Covid-19. Selain itu juga menyegerakan vaksinasi booster Covid-19 untuk meningkatkan proteksi terhadap Covid-19.

Gerak cepat pemerintah dalam upaya mensukseskan program vaksinasi bagi seluruh warga Indonesia, selaras dengan dikeluarkannya Surat Edaran Pelaksanaan Vaksinasi Booster di Semua Wilayah oleh Kemenkes. Melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes menerbitkan surat edaran yang ditujukan kepada dinas kesehatan provinsi, kabupaten, dan direktur rumah sakit di Indonesia untuk melaksanakan vaksinasi booster. Surat Edaran tersebut bernomor HK.02.02/II/252/2022 tentang Vaksinasi COVID-19 Dosis Lanjutan (Booster).

Alur Vaksinasi Booster

Sebagai informasi, pelaksanaan vaksinasi booster bagi sasaran Lansia dapat dilaksanakan secara serentak di seluruh kabupaten kota. Sementara sasaran non lansia dilaksanakan di kabupaten/kota yang sudah mencapai cakupan dosis 1 total minimal 70 persen dan cakupan dosis 1 lansia minimal 60 persen.

Calon penerima vaksin menunjukkan NIK dengan membawa KTP/KK. Bisa juga mendaftar melalui aplikasi Peduli Lindungi.

Penerima vaksinasi booster berusia 18 tahun ke atas dan telah mendapatkan vaksinasi primer dosis lengkap minimal 6 bulan sebelumnya. Vaksinasi booster dilakukan melalui dua mekanisme yaitu mekanisme Homolog, yaitu pemberian vaksin booster dengan menggunakan jenis vaksin yang sama dengan vaksin primer dosis lengkap yang telah didapat sebelumnya.

Sementara itu, mekanisme heterolog, yaitu pemberian vaksin booster dengan menggunakan jenis vaksin yang berbeda dengan vaksin primer dosis lengkap yang telah didapat sebelumnya.Penyuntikan dilakukan secara intramuskular di lengan atas.

Penyuntikan half dose dilakukan dengan menggunakan jarum suntik sekali pakai 0,3 ml yang telah diberikan tanda ukuran dosis 0,15 ml dan 0,25 ml. Bagi daerah yang belum menerima jarum suntik sekali pakai ini, maka dapat memanfaatkan yang tersedia.

Bagi ibu hamil, penggunaan vaksin mengacu pada Surat Edaran nomor HK.02.01/1/2007/2021 tentang Vaksinasi Covid-19 bagi Ibu Hamil dan penyesuaian skrining dalam pelaksanaan vaksinasi COVI0-19. Pelaksanaan kegiatan vaksinasi booster dilakukan di Puskesmas, rumah sakit milik pemerintah dan pemerintah daerah maupun pos pelayanan vaksinasi yang dikoordinasi oleh Dinas Kesehatan Provinsi atau Kabupaten Kota.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Sumber: www.jawapos.com